Sabtu, 20 November 2010

Al Aqsha Dalam Bahaya - Apa Yang dimaksud Masjid al Aqsha?

Apa Yang dimaksud Masjid al Aqsha?
al-aqsha
 Oleh: Syeikh Raid Shalah (Ketua Harakah Islam di wilayah Palestina 48)
Saya menemukan ketidakfahaman dan ketidaktahuan pada sebagian (besar) umat Islam tentang apa yang dimaksud dengan Masjid Al Aqsha Al Mubarok? berapa luasnya? dan bangunan apa saja yang ada di dalamnya?
Ketidaktahuan Umat tentang hal ini sudah barang tentu merupakan sebuah fenomena yang menyedihkan. Dari banyak perjalanan yang saya lalui, apakah selama menunaikan ibadah Haji, atau keikutsertaan saya dalam konferensi-konferensi Islam, dan interaksi dengan berbagai elemen Umat baik di musim Haji maupun Umrah, saya punya kesimpulan bahwa kaum Muslimin masih memiliki pemahaman yang salah tentang Masjid Al Aqsha.
Sebagian mereka menyangka bahwa Qubah As Shokhrah (Dome of The Rock atau masjid berkubah kuning emas) adalah al Aqsha. Sebagian lagi mengira, bahwa Mushalla Al Marwani adalah bangunan tersendiri, bukan merupakan bagian dan tidak ada kaitanya sama sekali dengan al Aqsha al mubarok. Sebagian lagi bahkan kebingungan ketika mendengar istilah “al Aqsha al Mubarak” dan istilah “al Aqsha Al Qadim” (al Aqsha Kuno).
Karenanya saya pikir adalah sesuatu yang urgen dan mendesak untuk mengangkat dan menjelaskan permasalahan ini. Tidak bisa dianggap wajar jika seorang muslim atau seorang arab ketika dia tidak mengetahui yang mana al Aqsha, karena ketidak tahuan terhadap hakikat Masjid al Aqsa adalah awal yang memilukan bagi (ancaman) hilangnya al Aqsha al Mubarak.
Sebaliknya, mengetahui dan memahami dengan baik (hakikat Masjid al Aqsha) merupakan prasyarat mutlak demi terwujudnya kesucian, kemuliaan dan kemerdekaan al Aqsha al Mubarok, meski orang-orang kafir pasti tidak menyukainya. Karena itu, saya bertanya kepada diri saya pribadi dan kepada Kaum Muslimin, “Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan al Aqsha al Mubarok itu?”
Mujiruddin Al Hanbali (seorang Alim yang lahir di kota Al Quds dan merupakan keturunan dari Abdullah Ibn Umar Ibn Khattab*) dalam kitabnya Al Anas Al Jalil (sebuah buku yang secara panjang lebar menerangkan tentang sejarah Baitul Maqdis sejak didirikannya hingga tahun 900 H/1494 M dan merupakan referensi paling lengkap tentang kehidupan ilmiah pada masa Dinasti Ayub dan Raja-raja Mamluk.
**Dia katakan: “ Yang populer dikalangan masyarakat bahwa al Aqsha dalam konteks kiblat yaitu keseluruhan bangunan ditengah-tengah Masjid yang di dalamnya terdapat mimbar dan mihrab besar. Padahal sesungguhnya yang dimaksud al Aqsha adalah sebutan bagi seluruh komplek Masjid yang dibatasi oleh dinding pembatas. Maka bangunan yang terdapat di dalam masjid dan bangunan-bangunan lainnya, seperti Qubbah as Shakhrah (Dome of The Rock), ruwaq-ruwaq (mihrab-mihrab masjid) dan bangunan-bangunan lainnya adalah bangunan-bangunan baru. Dan yang dimaksud dengan al Aqsha adalah komplek yang dibatasi oleh dinding pembatas.” Ad Dubbagh dalam bukunya Al Quds mengatakan: “ Al Haram Al Qadasi (wilayah harom yang suci) terdiri dari dua bangunan masjid; pertama, Masjid Ash Shakhrah (atau Qubbah Ash Shakhrah). Kedua, Masjid al Aqsha, serta bangunan-bangunan apa saja yang ada disekitarnya, hingga dinding pembatas sekalipun.”

Dengan dasar ini, jelaslah bagi kita bahwa semua kawasan yang ada di dalam batas dinding al Aqsha al Mubarak adalah bagian tak terpisahkan dari al Aqsha al Mubarak. Bahkan dindingnya itu sendiri merupakan bagian dari al Aqsha. Dalam artian, dinding dan semua pintu gerbang yang ada padanya adalah bagian tak terpisahkan dari al Aqsha yang diberkahi.
aqso Sebagai contoh, Dinding sebelah Barat adalah bagian tak terpisahkan dari al Aqsha, begitu pula dengan Tembok Al Buraq yang merupakan bagian dari Dinding Barat tersebut adalah juga bagian tak terpisahkan dari masjid al Aqsha. Dan Ribath al Kurd yang juga bagian dari Dinding Barat, merupakan bagian tak terpisahkan dari al Aqsha. Demikian pula dengan semua pintu masuk yang ada di Dinding Barat tersebut seperti Pintu Barat (Bab Al Magharibah), juga semua bangunan yang ada di Dinding Barat seperti madrasah At Tankaziyah, semuanya bagian tak terpisahkan dari al Aqsha al Mubarak.
Saya, yakin mayoritas Umat Islam belum mengetahui tentang hakikat ini. Dan adalah kewajiban bagi mereka untuk mengetahuinya. Maka bagi yang telah mengetahui hakikat-hakikat ini akan memaaham betul bahwa telah terjadi pelanggaran yang nyata terhadap al Aqsha al Mubarak hingga saat ini. Seperti, Perombakan dan pengalihfungsian Tembok Al Buraq yang merupakan bagian dari al Aqsha yang sekarang ini terkenal dengan sebutan “Benteng Ratapan” (sebagai bentuk penyesatan makna) adalah salah satu bentuk penistaan yang nyata dan terus-menerus terhadap al Aqsha al Mubarak. Juga penutupan Pintu Barat (yang merupakan bagian dari al Aqsha) yang dilakukan Israel hingga saat ini. Serta pengalihfungsian Madrasah At Tankaziyah (yang merupakan bagian dari al Aqsha) menjadi barak militer Israel hingga saat ini. Semua itu merupakan bentuk-bentuk pelanggaran yang nyata dan berkesinambungan terhadap Masjid al Aqsha al Mubarak. Saya ulangi-ulangi sebagai penegasan, dan siapa saja yang masih tidak faham tentang hal ini, sungguh keterlaluan.

mesjid indah al-aqso
 Orang yang mengetahui hakikat al Aqsha al Mubarak maka secara otomatis akan mengetahui apa bentuk-bentuk pelanggaran yang dilakukan secara berkesinambungan dan apa saja penistaan-penistaan nyata yang dilakukan terhadap al Aqsha. Dan saya ingin katakan: “ Bahwa Benteng Timur dan Benteng Utara serta Selatan yang mengelilingi al Aqsha al Mubarak dengan semua pintu dan bangunan yang ada padanya adalah bagian tak terpisahkan juga dari al Aqsha!!
Sungguh tragis petaka yang menimpa Masjid Al Aqsha hingga detik ini jika dilihat pemahaman yang mengantarkan kita kepada hakikat al Aqsha al Mubarak ini!! ٍٍSaya juga ingin menegaskan lagi bahwa semua bangunan yang ada di komplek yang dikelilingi oleh tembok pembatas mirip segi empat ini adalah bagian tak terpisahkan juga dari al Aqsha al Mubarak!! maka pelataran berpasir yang ditanami pohon Zaitun dan pepohonan lainnya adalah bagian tak terpisahkan dari al Aqsha. Tempat aliran air, kubah-kubah, tembok-tembok pembatas, gapura-gapura serta bangunan-bangunan lainnya adalah bagian tak terpisahkan dari Masjid al Aqsha al Mubarak.
Saya ulangi lagi, bahwa yang mengetahui dan memahami hakikat inilah yang akan mengerti nestapa dan kegelisahan yang menyelimuti al Aqsha al Mubarak!! Salah satu bangunannya yang terletak di dalam dinding pembatas telah dialihfungsikan menjadi Pos Polisi Zionis hingga saat ini, dan ini bentuk penodaan nyata yang berkesinambungan terhadap al Aqsha al Mubarak. Demikian pula dengan pelataran tanah yang terletak diantara dinding al Aqsha, sebagian orang Zionis, terutama, “Yisrael Hawkins” berupaya membangun Sinagog diatasnya, dan menyatakan secara terang-terangan tentang hal itu.
Dan bahkan secara terang-terangan mengatakannya kepada saya tentang rencana ini. Maka saya katakan kepadanya, “ Kalau itu yang kalian rencanakan, maka, (sebenarnya) kalian sedang berusaha untuk menyulut terjadinya perang dunia ketiga karena wilayah ini adalah bagian dari Masjid Al Aqsa al Mubarak. Dan cukup dengan berpikir untuk membangun Sinagog di atasnya kalian telah melakukan penodaan yang nyata terhadap al Aqsha al Mubarak!! Termasuk apa yang dilakukan Pemerintah Zionis dengan menutup pintu-pintu yang menjadi akses masuk ke pelataran ini dan bangunan-bangunan yang ada di dalamnya hingga saat ini adalah bentuk pelanggran nyata terhadap Masjid al Aqsha.
Kemudian ingin saya tegaskan lagi, seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa as Shakhrah al Musyarafah (Batu yang dimuliakan) adalah bagian tak terpisahkan dari al Aqsha al Mubarak. Serta Masjid yang dibangun ditengah-tengah komplek Masjid al Aqsha al Mubarak dari arah Kiblat (yang oleh Umat Islam sering dipahami sebagai 'Masjid al Aqsha', padahal bukan itu yang dimaksud Masjid Al Aqsha (yang sesungguhnya), beserta bangunan-bangunan yang terdapat dibawah masjid ini yang kita sebut dengan istilah “ al Aqsha Al Qadim” (al Aqsha Kuno) semuanya adalah bagian tak terpisahkan dari al Aqsha al Mubarak.
Begitu pula dengan Mushalla Al Marwani yang terletak disebelah tenggara al Aqsha adalah juga bagian tak terpisahkan dari al Aqsha. Berdasarkan pemahaman ini, maka rencana jahat apapun untuk mengambil atau mengubah al Aqsha Al Qadim dan Mushalla Al Marwani adalah bentuk konspirasi keji terhadap al Aqsha al Mubarak. Dan kita bertahu-tahun tertipu, lalu dengan enteng ada yang berseloroh: “ Demi terciptanya kedamaian, mengapa tidak kita serahkan saja Mushalla Al Marwani atau al Aqsha Al Qadim kepada orang-orang Yahudi?!”
Saya katakan: Bangkitlah wahai Kaum Muslimin dan bangsa Arab! Pemikiran seperti ini adalah bentuk pelanggaran keji terhadap al Aqsha. Benar! Luka begitu menganga, malam terasa panjang, kegelisahan begitu berat, kesabaran dan sumbangsih yang berkesinambungan. Maka keberanian adalah kesabaran sesaat. Dan keyakinanlah yang mengantarkan kita kepada kepemimpinan dalam beragama.
Jika kita tahu apa yang telah dipersembahkan, niscaya dengan sangat mudah dan jelas mengetahui (apa yang bisa kita dapatkan), seperti yang dikatakan Ustadz Muhammad Hasan Syarab dalam bukunya “Baitul Maqdis dan Masjid Al Aqsha”: “Masjid al Aqsha yang disebut dalam surat al Isra' semuanya adalah al Haram al Qadasi. Tempat, dimana pahala shalat disana dilipatgandakan. Dipenjuru mana saja di komplek yang dikelilingi pagar tembok itu, apakah di 'Masjid al Aqsha', atau di Qubbah as Shakhrah, atau di Musalla al Marwani atau bahkan di pelataran berpasir yang berada di dalam komplek yang dibatasi dinding tersebut. Setiap rakaat bernilai sama dengan 500 kali rakaat (dalam riwayat lain 1000 rakaat) shalat di masjid-masjid lainnya, selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Maka kini saatnya, wahai kaum Muslimin dan bangsa Arab, untuk bangkit dari tidur panjangmu. Dan segera tersadar dari kelengahanmu.


Sumber : http://knrp.or.id

Gaza, kembali lantik 13 ribu Penghafal al-Aquran baru

Assalamualaikum wr.wb

Yang kedua kalinya kami diaundang utk menghadiri acara hafidzul qur'an tepatnya dikota jabaliya, gaza utara, jalur gaza, acara kali ini disponsori oleh menteri perwaqafan dg jumlah 13.000 hafidz dan hafidzah yg tentunya didominasi oleh anak-anak berumur belasan tahun, yang paling mengharukan ada seorang hafidz yang kedua kakinya buntung, beliau dipersilahkan naik ke atas panggung utk menyampaikan sepatah dua patah kata. Awal sambutan beliau mengatakan : "Insyallah kita akan bersama-sama melaksanakan sholat di masjid al Aqsha, amin ya rab"  selanjutnya beliau sebagai motivasi akan tetapi bagi saya adalah sebuah kata yang mengharukan, bulu kuduku serentak berdiri dan tak tahan melinangkan air mata, kenapa? beliau mengatakan kepada bapaknya : " Wahai bapakku..walau saya tdk mempunyai kedua kaki dan selalu ditemani oleh kursi roda akan tetapi janganlah bersedih karena di akhirat kelak  aku akan memberikan pakaian yang sangat indah untukmu, wahai Ayah dan berbanggalah karena anakmu yang cacat ini telah tamat menghafal al-Quran dan insyallah dengan hafalanku ini kita akan bersama-sama menuju pintu surga yang tentunya dengan ijin dan karunia ilahi." Ungkapan seperti ini sudah barang tentu sering kita dengar, akan tetapi baru kali ini penulis menyaksikan langsung kata tersebut dari seorang yang benar subhanallah, allahu akbar.
Setelah itu naik lagi keatas panggung seorang hafidzah yang umurnya sekitar 60 tahun-an, berkaca mata hitam, penulis mengira kalau si ibu tersebut tdk ada masalah dg anggota tubuhnya, subhannalah allahu akbar ternyata yang berdiri diatas panggung dan melantunkan kalimat allah dan diperbagus suaranya adalah (maaf) kedua matanya tidak bisa melihat (tuna netra). Setelah mengaji dg suara yang indah, sesekali beliau melontarkan kata : " walau kedua mataku tidak dapat melihat akan tetapi karena besar niatku akhirnya aku dapat menghafal al-Quran 30 juz hanya dalam waktu kurang lebih 3 bulan, subhanallah..
wallahu alam
wassalam
Salam dari kami relawan indonesia dijalur gaza palestina dan kami dalam keadaan sehat wal afiat dan lancar-lancar saja dalam menjalankan aktivitas misi kemanusiaan.
Abdillah Onim
(merc cab. Gaza Palestina)

sumber : http://knrp.or.id

Rabu, 17 November 2010

Eropa Makin Banyak Kaji Islam Indonesia

 Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Nur Kholis Setiawan mengatakan bahwa saat ini semakin banyak perguruan tinggi di Eropa yang mendirikan kajian mengenai Islam di Indonesia karena mereka tertarik atas kehidupan beragamanya.
"Mereka menyadari Islam di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, juga penting," kata Nur Kholis saat kuliah umum di Universitas Wina, Austria, Senin.
Nur Kholis bersama dengan Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Prof BS Mardiatmadja dan Direktur Institute for Study of Islamic Though and Civilization (Insist) Hamid Fahmi Zarkasyi berada di Austria untuk memberi kuliah umum di Universitas Wina dan Universitas Salzburg.
Mereka mengikuti kegiatan Kampanye Diplomatik Umum yang diadakan oleh Kementerian Luar Negeri.
Nur Kholis yang pernah belajar mengenai kajian Islam di Jerman dan mengambil S2 di Belanda itu mengatakan, kajian Islam di Indonesia antara lain ada di Jerman (Frankruf, Hamburg, Berlin, dan Bonn), Belanda, dan Inggris.
Nur Kholis mengatakan, mereka kagum dan merasa heran, Indonesia yang luas dan sangat beragam budaya serta agama tidak pernah bentrok seperti di Balkan. "Aman-aman saja. Mereka kagum," katanya.
Beberapa waktu lalu, katanya, Jerman merasa gagal membangun keanekaragaman padahal penduduknya hanya terdiri dari Jerman asli, Turki dan Yahudi.
Hal itu, katanya, karena Jerman merasa yang paling utama. "Nah Indonesia tidak mengalami hal ini. Kita saling menghargai satu sama lain," katanya.
Nur Kholis juga mengatakan, sejak dahulu kajian mengenai Islam di Eropa hanya tertuju pada kajian Islam Timur Tengah. Namun setelah melihat perkembangan yang ada mereka merasa perlu melihat Islam dari sisi yang lain. "Indonesia salah satunya," kata Nur Kholis.
Ia mengatakan, Indonesia sebagai negara muslim yang besar namun angka konfliknya kecil.
Pada kesempatan itu Nur Kholis juga menggambarkan kondisi kehidupan antaragama di Indonesia. Ia mengakatan bahwa kehidupan antaragama di masa pascareformasi lebih baik dibanding masa orde baru.
Ia mengatakan, pada saat orde baru keberagaman dicoba untuk dieliminir.
Nur Kholis juga mengatakan, jikapun ada konflik di Indonesia maka itu bukan merupakan konflik antaragama. "Saya kira lebih banyak karena faktor lain," katanya.
Sebagai contoh kerusuhan di Sampit, Kalimantan, dan Poso (Sulawesi Tengah), katanya, bukanlah kerusuhan antaragama. Ia mengatakan kerusuhan di Sampit merupakan kerusuhan etnis.
Saat kunjungan Presiden Austria Heinz Fischer ke Indonesia 9 November, Indonesia dan Austria menandatangani perjanjian di bidang peningkatan kerja sama dialog antar umat beragama untuk mendorong hubungan kedua negara yang lebih baik.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, kerja sama itu dapat berbentuk pertukaran pelajar ataupun kunjungan pemuka agama dari kedua negara dalam upaya membentuk dialog antar penganut agama.
Sementara Presiden Fischer mengatakan, Austria telah mendorong adanya dialog antar umat beragama di dalam negeri mereka sebagai upaya untuk mendorong adanya rasa saling memahami.
"Hal tersebut kami kembangkan melalui kerja sama di bidang tersebut dengan negara lain, dan kami memilih Indonesia," paparnya.


Sumber : id.news.yahoo.com, Selasa, 16 November 2010

Jumat, 12 November 2010

SURAT DARI MERAPI

Mahasiswa yang tubuhnya penuh debu itu akhirnya menemukan tempat ibunya di barak pengungsi di kaki Merapi. Tapi ibunya sejak pagi tadi sudah dibawa relawan ke rumah sakit lantaran sesak napas akibat menghisap terlalu banyak debu vulkanik. Dua adik perempuannya ikut serta menemani ibu. Matanya yang cemas melihat secarik kertas menyembul dari tas tua milik ibunya. 
 Dengan tangan gemetar ia ambil dan membuka lipatannya. Tulisan ibu.. ia mengenali tulisan indah ibunya.

“Anakku.. kita sudah tak punya apa-apa lagi, nak. Semua sapi kita mati. Sawah kita yang hijau telah hangus berubah kelabu, hanya menyisakan timbunan debu. Ibu sudah tak dapat mengirim uang lagi untuk biaya kuliahmu. Seandainya bapakmu masih ada... ya Allah semoga almarhum telah damai di sisi-Mu..

Anakku.. yang ibu punya sekarang hanya doa. Doa yang selalu ada untuk putra-putri ibu. Katanya pemerintah akan mengganti ternak yang mati. Tapi ibu sudah tak berharap Sultan akan memenuhi janji. Ibu sudah berhenti berharap pada manusia. Ibu hanya ingin berharap pada Allah yang tak mungkin mengingkari janji-Nya. Berharap pada manusia sering membuat kita kecewa.

Harta benda kita memang sudah musnah. Tapi kita punya Tuhan. Kita punya janji-Nya yang pasti terpenuhi. Percayalah nak, Tuhan akan menurunkan kebaikan kepada orang-orang yang berusaha menjadi hamba-Nya yang baik. Kamu putra ibu yang kuat, bantulah sesama dengan tenagamu. Kamu putra ibu yang cerdas, bantulah sesama dengan kepintaranmu. Kalau kelak kamu mendapat anugerah rizki-Nya, ringankan hatimu untuk selalu bersedekah. Sayangi dirimu dengan menyayangi sesama...

Anakku, janganlah pernah melupakan Allah, agar Allah tak melupakanmu. Teruslah untuk mengingat Allah, baik di waktu senang maupun susah. Ucapkanlah nama-nama-Nya yang indah dengan hatimu untuk mengusir semua resah dan gelisah. Zikrullah itu nak, akan menenteramkan hatimu.. akan memekarkan setiap kuntum bunga di taman hatimu.

Anakku.. Merapi ini gunung kita, kampung kita. Merapi ini tumpah darahmu. Kelak kamu mungkin pergi jauh meninggalkan Merapi.. tapi merapi akan tetap menjadi kampung halamanmu. Udara pertama yang kamu hirup udara Merapi. Air pertama yang kamu minum air Merapi. Makanan pertama yang kamu makan tumbuh di Merapi. Tanah pertama yang kamu injak tanah Merapi. Sahabat pertama yang kamu kenal adalah orang Merapi. Kamu akan selalu merindukannya, sebab separo jiwamu ada di sini.. di merapi ini.

Jangan pernah marah pada Merapi, anakku, sebab gunung ini tak bersalah. Gunung Merapi tak pernah marah. Gunung ini bergerak, terus bergerak sembari bertasbih untuk memenuhi takdirnya menjaga keseimbangan bumi. Gunung adalah pasak yang mengutuhkan bumi kita.

Tetaplah menyayangi gunung kita, Merapi kita.. dengan tidak mencederai hutannya, bebatuannya, airnya. Tetaplah tersenyum pada Merapi kita agar Merapi juga tersenyum untuk kita. Merapi akan selalu menyimpan anugerah Tuhan untuk orang-orang yang hidup bersamanya. Teruslah berusaha untuk memahami gunung kita, sebab kitalah yang harus menyesuaikan diri untuk hidup bersamanya. Jangan pernah memaksa gunung untuk menyesuaikan dirinya pada kita..

Anakku.. kamu putra ibu.. dan akan selalu menjadi putra ibu.

Usai membaca kalimat terakhir yang ditulis ibunya, anak muda itu tak dapat lagi menahan gejolak hatinya. Sekujur tubuhnya bergetar, dadanya gemuruh, lalu tangisnya meledak dengan tubuh luruh bersimpuh. Air matanya meleleh bercampur debu.

“Subhanallah.. iya ibu, saya putra ibu.. selamanya tetap menjadi putra ibu. Ibu adalah mata airku.. selamanya menjadi mata air untuk putramu ibu...” (banda bening)

Sumber :  bulancahaya9.blogspot.com