Rabu, 08 September 2010

Duhai Diri, Ramadhan Pergi Sebentar Lagi...

Duhai diri, sekarang Ramadhan sudah akan beranjak pergi. Lebih dari separuh perjalanan bulan suci ini telah berlepas dari kita. Aku hanya ingin bertanya sama kamu, sudah apa saja kamu sampai detik ini. Aku denger dirimu sedang sibuk dengan proyek terbarumu yang bermiliyaran rupiah itu. Atau malah aku dengar kamu sedang sibuk dengan kesibukan barumu yang menyita hampir seluruh hidupmu.
Bagaimana dengan ibadahmu? Sudah berapa kali kamu khatam Al Quran, atau kamu hanya membaca beberapa juz saja di bulan ini. Kerongkonganmu kering dari ayat ayat ilahi. Lisanmu tak pernah basah dari lantunan ayat suci Qurani. Lalu kemanakah statemen cinta yang selama kamu elu-elukan di hati. DImanakah target-target yang dulu kamu janjikan pada diri sendiri.

Duhai diri, bagaimana dengan shalat kamu hingga detik ini. Ingatkah engkau bahwa kamu berjanji akan tahajud setiap malam. Menangis, merintih mencari pertolongan Rabb Semesta Alam. Bersimpuh dengan tobat seluruh, badan, jiwa dan hati untuk segera kembali. Tapi diri, lihatlah dirimu kini. Ternyata malam-malammu hidup dengan televisi. Dari lawak, sepakbola, grand prix moto gp hingga obrolan basi tokoh-tokoh politisi. Detikmu berlalu semu. Kesempatanmu terbuang bisu. Tak ada manis lembut hidayah Allah untukmu. Terbuang percuma dengan gelak tawa dan canda tiada guna. Apakah di bulan suci ini kamu sedang bersedih, sehingga harus tertawa setiap detik. Atau justru tertawa yang berlebihan itu bisa membuat hatimu keras, sekeras batu karang tak mempan oleh hidayah AR Rahman.

Duhai diri, bagaimana dengan infak, sedekah dan kebaikan-kebaikanmu. Apakah selama Ramadhan ini kamu sudah melakukan itu semua? Ataukah kamu menyimpan hartamu rapat-rapat. Kamu kunci di tempat yang aman. Tak ada yang tahu kecuali kamu dan Rabbmu. Kamu takut hartamu berkurang meski hanya beberapa puluh ribu. Kamu ingin membawanya mati bersama kamu. Harta yang selama ini kamu cari setengah mati, tak mungkin begitu saja engkau beri kepada orang-orang yang berhak kau kasihi. Betapa kerdilnya hati ini, betapa sempitnya keinginan ini. Harta itu tidak akan beranak, tidak pula berkembang biak. Tapi kecintaanmu padanya, membuatnya harta itu menjadi tidak berkah lagi. Kenapa tidak kau sedekahkan hartamu di bulan suci ini. Sehingga Allah, Rasul dan orang-orang beriman akan melihat amal-amalmu.

Duhai diri, belum terlambat untuk berubah. Segeralah berbenah. Masuklah dalam pelukan Allah, dan nikmatilah sajian Ramadhan di tahun ini. Dekatkan hatimu dan pintalah ampunan dengan segala pinta yang bisa kamu lakukan. Duhai diri, semoga di bulan ini, engkau tidak lagi merugi seperti tahun-tahun lalu. Karena ridho Allah yang ingin digapai, ampunan Allah yang ingin dituju, dan kebahagian dunia akhirat yang dijanjikan untuk hamba-hambaNya yang beriman dan beramal shalih... 


Minggu, 05 September 2010

Pythagoras

Lahir di sekitar tahun 569 BC di Samos, Ionia dan meninggal pada tahun 475 BC. Pythagoras dari Samos seringkali digambarkan sebagai seorang matematikawan murni. Dia adalah tokoh yang sangat penting dalam pengembangan matematika, namun kita tahu persis prestasi dalam bidang matematika. Tidak seperti banyak matematikawan Yunani, dimana buku-buku mereka tulis. Pythagoras merupakan tokoh misterius.

Ayah Pythagoras   Mnesarchus, sementara ibunya adalah Pythais dan dia adalah penduduk asli Samos. Mnesarchus adalah seorang pedagang yang datang dari Tyre, menurut cerita ia pernah membawa jagung ke Samos pada waktu kelaparan dan diberikan kewarganegaraan dari Samos sebagai tanda terima kasih. Sebagai anaknya Pythagoras menghabiskan awal tahun di Samos tetapi banyak melakukan perjalanan dengan ayahnya.

Sedikit yang diketahui tentang Pythagoras. Semua penampilan fisiknya mungkin fiktif kecuali gambaran yang mengesankan Pythagoras yang memiliki tahi lalat pada paha. Mungkin dia mempunyai dua saudara laki-laki meskipun beberapa sumber mengatakan ada tiga. Tentu dia dididik dengan baik, belajar untuk memutar lyre, belajar puisi dan bacakanlah Homer. Terdapat tiga filosof yang mempengaruhi Pythagoras ketika ia seorang anak muda. Salah satu yang paling penting adalah Pherekydes yang banyak menjelaskan sebagai guru dari Pythagoras.


Dua filosof lain yang mempengaruhi Pythagoras, dan untuk memperkenalkannya ide matematika, adalah Thales dan Anaximander murid yang baik tinggal di Miletus. Dikatakan bahwa Pythagoras pernah berkunjung di Miletus Thales ketika dia antara 18 dan 20 tahun. Saat ini Thales adalah orang tua meskipun ia membuat kesan kuat pada Pythagoras, ia mungkin tidak mengajarkan kepadanya banyak sekali. Namun dia memberikan kontribusi ke Pythagoras minat matematika dan astronomi, dan dia disarankan untuk melakukan perjalanan ke Mesir untuk mempelajari beberapa mata pelajaran.  Anaximander memang telah tertarik geometri dan kosmologi dan banyak orang akan mempengaruhi ide Pythagoras.
Sekitar 535 SM Pythagoras pergi ke Mesir. Hal ini terjadi beberapa tahun setelah firaun Polycrates azab kontrol kota Samos. Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa Pythagoras dan Polycrates yang ramah di depan dan itu diklaim Pythagoras yang pergi ke Mesir dengan surat pengantar yang ditulis oleh Polycrates. Polycrates sebenarnya memiliki persekutuan dengan Mesir dan oleh karena itu terdapat hubungan kuat antara Samos dan Mesir saat ini.
Pythagoras melakukan perjalanan ke Crete segera setelah kembali ke Samos untuk belajar sistem hukum di sana. Di Samos ia mendirikan sekolah yang disebut setengah lingkaran.
Pythagoras meninggalkan Samos dan pergi ke selatan Italia sekitar 518 SM (beberapa mengatakan banyak sebelumnya). Iamblichus memberikan beberapa alasan untuk meninggalkan dia. Pertamakomentar dia pada Samian tanggapan atas metode: –
… ia mencoba untuk menggunakan metode simbolis kepada pengajaran yang sama dalam segala hal ke pelajaran dia belajar di Mesir. Samians yang sangat tidak tertarik untuk metode ini dan dia dirawat di rude dan penanganan yang tepat.
Hal ini, menurut Iamblichus, sebagian digunakan sebagai alasan untuk Pythagoras meninggalkan Samos: –
… Pythagoras telah menyeret ke dalam semua jenis misi diplomatik dengan sesama warga dan dipaksa untuk berpartisipasi dalam urusan publik. … Dia tahu bahwa semua filosof sebelum dia telah berakhir pada hari mereka asing tanah sehingga ia memutuskan untuk melepaskan diri tanggung jawab semua politik, alleging sebagai alasan, menurut beberapa sumber, yang hina yang telah Samians untuk metode.
Pythagoras mendirikan suatu falsafah dan agama di sekolah Croton (sekarang Crotone, di sebelah timur dari tumit sebelah selatan Italia) yang memiliki banyak pengikutnya. Pythagoras adalah ketua masyarakat dengan inti dari lingkaran pengikutnya dikenal sebagai mathematikoi. Mathematikoi yang tinggal secara permanen dengan Masyarakat, tidak memiliki harta pribadi dan Vegetarians. Mereka diajar oleh Pythagoras dirinya ketat dan taat aturan. Kepercayaan yang telah diselenggarakan Pythagoras:
(1) yang pada tingkat deepest, matematika adalah kenyataan di alam,
(2) filosofi yang dapat digunakan untuk pemurnian rohani,
(3) jiwa yang dapat menimbulkan kesatuan dengan Tuhan,
(4) simbol tertentu yang memiliki kepentingan mistik, dan
(5) bahwa semua saudara-saudara dari urutan harus memperhatikan ketat loyalitas dan rahasia.
Laki-laki dan perempuan yang diizinkan untuk menjadi anggota Serikat, bahkan beberapa wanita Pythagoreans kemudian menjadi filosof terkenal. Di luar lingkaran dari Masyarakat yang dikenal sebagai akousmatics dan mereka tinggal di rumah mereka sendiri, hanya datang ke Masyarakat sepanjang hari. Mereka boleh harta mereka sendiri dan tidak perlu Vegetarians.
Pythagoras yang sebenarnya tidak dikenal. Sekolahnya dipraktikkan dan komunalisme rahasia sehingga sulit untuk membedakan antara karya Pythagoras dan bahwa orang pengikutnya. Pasti dia sekolah dibuat beredar kontribusi kepada matematika, dan sangat mungkin akan cukup tertentu tentang beberapa Pythagoras kontribusi dari matematika. Pertama kita harus jelas apa arti Pythagoras dan mathematikoi yang belajar matematika. Mereka bukan sebagai matematika penelitian tidak dalam grup modern universitas atau lembaga lainnya. Tidak ada ‘buka masalah’ bagi mereka untuk memecahkan, dan mereka tidak ada dalam rasa tertarik untuk mencoba merumuskan atau memecahkan permasalahan matematis.
Pythagorastidak tertarik dengan prinsip-prinsip matematika, konsep angka, konsep sebuah segitiga atau angka lainnya matematika dan gagasan abstrak dari bukti. Pythagoras percaya bahwa semua hubungan dapat dikurangi ke nomor mitra.
Ini dari generalisation stemmed Pythagoras dari pengamatan di musik, matematika dan astronomi. Pythagoras bahwa vibrating string menghasilkan nada harmonis bila ratios of the lengths of the strings adalah seluruh nomor, dan bahwa berbagai bentuk ratios dapat meluas ke instrumen lainnya. Bahkan Pythagoras patut dilakukan kepada matematika teori musik. Ia adalah seorang musisi halus, pemutaran lyre, musik dan ia digunakan sebagai alat untuk membantu orang-orang yang sakit.
Setiap nomor memiliki kepribadian – maskulin atau feminine, sempurna atau tidak lengkap, cantik atau jelek. Matematika modern ini merasa telah sengaja dihilangkan, namun kita masih menemukan nada yang di fiksi dan puisi. Sepuluh adalah yang terbaik nomor: ia sendiri yang pertama empat integers – satu, dua, tiga, empat dan [1 + 2 + 3 + 4 = 10] – dan ini ditulis dalam notasi titik membentuk sebuah segitiga sempurna.
Tentu saja hari ini kita ingat khususnya bagi yang terkenal Pythagoras theorem geometri. Meskipun theorem, sekarang dikenal sebagai Pythagoras theorem’s, dikenal dengan Babilon awal tahun 1000 ia telah menjadi satu untuk membuktikan itu.
Sumber:
http://www-groups.dcs.st-and.ac.uk/~history/Biographies/Pythagoras.html

Sabtu, 04 September 2010

Medali Fields




Medali Fields adalah penghargaan yang diberikan kepada dua hingga empat matematikawan yang berusia kurang dari 40 tahun pada Kongres Internasional Persatuan Matematika Internasional. Penghargaan ini diselenggarakan setiap empat tahun sekali. Pertama kali dianugerahkan pada tahun 1936.


Tidak ada Nobel untuk bidang Matematika
Para ilmuwan mengatakan bahwa matematika adalah induk dari segala ilmu sains. Lalu mengapa tidak ada hadiah nobel untuk matematika? Ada banyak dugaan mengenai hal ini, yang mayoritas mengatakan bahwa Alfred Nobel memiliki illfeel terhadap matematika. Namun alasan sebenarnya adalah karena Alfred Nobel menganggap matematika tidak mempunyai terapan langsung dalam kehidupan nyata. Hal ini dapat dilihat dari bidang-bidang yang ada seperti yang telah tersebut di atas. Karya yang dihasilkan pun harus yang berupa terapan, tidak boleh yang berupa pengembangan teori.
Pintu untuk membuka Nobel di bidang matematika agaknya telah tertutup, namun para matematikawan telah berusaha untuk membuat jalan lain. John Charles Fields, seorang ahli matematika Kanada abad 19-20, menggagas adanya hadiah bergengsi bagi bidang matematika. Hadiah ini pada akhirnya diberi nama Fields Medal untuk menghargai almarhum.
Tidak seperti Nobel, Fields Medal diberikan pada mereka yang menghasilkan karya teoritis. Ada dua macam karya yang dapat dihasilkan oleh seseorang supaya dapat memperoleh medali ini. Yang pertama adalah jika seseorang dapat memecahkan soal yang terkenal sulit(lebih lazim disebut problem solving), dan yang ke dua adalah jika seseorang dapat menciptakan teori baru di bidang matematika.
Perbedaan yang lain yang cukup mencolok adalah kriteria peserta. Jika dalam hadiah Nobel tidak ada batasan usia, maka usia maksimum seseorang dapat menerima Fields Medal adalah 40 tahun. Jelas, bahwa medali ini ditujukan bagi para ilmuwan muda. Dasar pemikiran batasan usia ini adalah dengan harapan para penerima penghargaan terdorong untuk melanjutkan karyanya, bukannya berhenti sampai pada penerimaan hadiah. Dapat juga dikatakan, hal ini mendorong para ilmuwan muda yang belum mencapai batas usia untuk berkarya semaksimal mungkin.
Lalu sebenarnya kapan Fields Medal diberikan dan apa bentuk hadiahnya? Penghargaan diberikan pada Kongres Matematika Internasional yang diadakan empat tahun sekali(suatu batasan lagi untuk penerima penghargaan ini). Orang-orang yang layak akan mendapatkan sebuah medali emas. Sisi depan medali bergambarkan Archimedes, salah satu ahli matematika tertua di dunia, yang dikitari oleh tulisan “Transire suum pectus mundoque potiri“. Tulisan berbahasa Latin ditemui juga di sisi belakang medali, yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan “Para ahli matematika berkumpul dari seluruh dunia menghargai karya yang luar biasa”. Nama penerima penghargaan tertulis di tepi medali. Tidak hanya mendapatkan medali, uang sebesar US$15000 juga dihadiahkan kepada mereka. Memang bukanlah jumlah yang besar jika dibandingkan dengan US$1,5 juta-nya Nobel, namun mayoritas penerima Fields Medal lebih memandang penghargaannya daripada uangnya.

Fields Medal terakhir kali diadakan pada bulan lalu Pada tanggal 19 Agustus 2010 di Hyderabad International Congress of Mathematicians, India. Ada empat orang yang menerima penghargaan tersebut, yaitu Cédric Villani of the Henri Poincaré Institute in Paris, Stanislav Smirnov of the University of Geneva, Ngô Bao Châu of the University of Paris XI, and Elon Lindenstrauss of the Hebrew University of Jerusalem.
Meski telah dikhususkan pada matematika, terdapat beberapa cabang matematika yang sering muncul dalam penghargaan ini. Ini bukanlah suatu hal yang perlu dikhawatirkan, karena ada banyak teori maupun penemuan baru yang dihasilkan dari bidang-bidang yang tampak terbatas itu. Hal yang seringkali terjadi adalah ditemukannya hubungan antara teori-teori yang tampaknya tidak ada hubungannya sama sekali. Dan salah juga kalau hendak dikata bahwa penghargaan ini terlalu eksklusif matematika. Edward Witten adalah fisikawan pertama yang menerima Fields Medal, tepatnya pada 1990. Lebih jauh lagi, ada banyak hubungan antara fisika dan matematika yang dihasilkan oleh para penerima medali. Pada akhirnya, matematika dapat membantu perkembangan ilmu-ilmu sains lain.

Penerima Medali Fields



Ramadan Bulan Kemenangan

SEKARANG ini kita berada pada sepuluh akhir bulan Ramadan. Pada waktu sepuluh akhir Ramadan itu, Rasulullah SAW sekeluarga dan para sahabat beliau lebih meningkatkan lagi aktivitas amal ibadah untuk meraih Lailatul Qadar (malam kemuliaan), yaitu suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan.
 
Keutamaan Lailatul Qadar itu hanya diberikan oleh Allah SWT kepada umat Islam saja. Memang, bulan suci yang mulia ini merupakan bulan untuk memperbanyak amal ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bukan hanya itu, bulan Ramadan juga disebut sebagai ‘’madrasah Ramadan’’, mencetak umat manusia yang bisa mengendalikan hawa nafsu dalam hidupnya, dan menjalankan wahyu langit (Alquran) yang mengantarkannya kepada kedudukan yang mulia.

Pengendalian Nafsu
Manusia diciptakan Allah SWT dari dua unsur yang berbeda, yaitu unsur tanah dan unsur ruh. Ini jelas dalam penciptaan Nabi Adam dari tanah, dan peniupan ruh yang merupakan unsur langit diberikan Allah SWT (QS: Shad: 71-72).

Penciptaan manusia dari dua unsur ini sesuai dengan manusia yang hidup di alam materi dan alam ruh. Manusia hidup berinteraksi dengan tanah (bumi), dan kehidupannya juga berhubungan dengan langit (Tuhan). Manusia memerlukan hasil bumi berupa makanan, minuman, dan pakaian. Dan manusia juga memerlukan sesuatu yang diturunkan dari langit, yaitu wahyu.

Makanya, manusia diberi kemauan (nafsu) yang dapat membantunya untuk membangun bumi dan menikmati hasilnya, dan manusia juga diberikan kehidupan ruh (rohani), agar kehidupannya dapat naik menjadi tinggi hingga sampai hubungannya dengan Allah SWT.

Pengaruh nafsu yang ada pada diri manusia (unsur tanah) itu akan bisa menurunkan ketinggian derajat manusia hingga lebih rendah dari hewan. Dan unsur ruh (unsur langit) yang terdapat dalam jasad manusia itu akan bisa menjadikan derajat manusia itu menjadi tinggi hingga setara dengan para malaikat.

Agama berperan mengangkat undur ruh dalam jasad manusia dan mengalahkan unsur tanah (nafsu). Dan ini bukan suatu hal yang mudah, karena unsur tanah (nafsu) sungguh dominan dalam diri manusia, dan diri manusia itu lebih cenderung mengikuti kehendak nafsu.

Karena itu, manusia dituntut mengendalikan diri dengan sabar dan yakin hingga dirinya sampai pada tingkat kepemimpinan dalam agama (QS: al-Sajadah: 24). Dengan sifat sabar itu manusia akan sanggup melawan hawa nafsu, dan dengan sikap yakin itu manusia akan mampu menghadapi segala perkara syubhat yang ada dalam kehidupannya. Dengan begitu, seseorang itu baru bisa mendapat hidayah Allah SWT (QS: al-Ankabut: 69).

Islam mensyariatkan berbagai jalan kepada manusia, agar diri manusia mampu mengendalikan kekuatan unsur tanah (nafsu) yang ada pada dirinya. Di antaranya adalah segala amalan yang terdapat dalam rukun Islam, berupa salat, puasa, zakat, dan haji. Dan puasa merupakan jihad ruhani terbesar dalam diri manusia untuk mengendalikan dominasi nafsu dan mengarahkannya kepada jalan yang benar, sesuai dengan tuntunan unsur langit, ruh (wahyu).

Penyucian Diri
Satu bulan manusia melaksanakan puasa, mening-galkan kelezatan dan mengekang kehendak hawa nafsu. Makanya, bulan Ramadan itu disebut juga sebagai bulan penyucian diri manusia yang dikotori oleh berbagai kehendak hawa nafsu selama satu tahun dalam hidupnya. Bulan Ramadan itu juga sebagai ‘’toilet rohani’’, tempat mandi tahunan mencuci kotoran dosa. Seorang muslim akan keluar dari Ramadan itu dengan diri yang bersih dan suci, terampun dosa-dosanya yang telah lalu (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Sebagaimana ibadah salat merupakan ‘’toilet ruhani’’ harian, membersihkan diri dari dosa-dosa yang pernah dilakukan seseorang dalam kesehariannya. Bukan hanya itu, Ramadan juga dihiasi dengan qiyam al-lail dengan melaksanakan salat tarawih pada malamnya, membuat seseorang merasakan melaksanakan penyucian diri siang dan malam selama bulan Ramadan.

Syukur Nikmat
Di Bulan Ramadan, manusia merasakan nilai dari nikmat Allah SWT. Karena limpahan nikmat tidak terasa, kecuali setelah nikmat itu hilang. Makanya orang mengatakan, kesehatan itu mahkota yang terletak di kepala orang yang sehat, tapi hanya bisa dilihat oleh orang yang sakit. Seorang muslim yang lapar dan haus di siang Ramadan, di saat berbuka, baru dia merasakan tingginya nilai nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepadanya.

Benar kata Rasulullah SAW, kebahagian seorang yang berpuasa itu ada pada ketika dia berbuka, dan ketika dia berjumpa dengan Allah SWT di akhirat kelak (HR Imam Muslim dan Imam al-Tirmizi). Maka bulan Ramadan juga mengajarkan kepada umat manusia untuk pandai mensyukuri nikmat yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya.

Kepedulian Sosial
Puasa Ramadan juga menumbuhkan rasa kepedulian sosial pada diri seorang muslim. Dia merasakan perihnya derita yang menimpa fakir miskin yang diterjang lapar siang dan malam. Dengan begitu, timbul rasa kepedu-liannya membantu orang yang hidup dalam kesusahan. Bahkan Rasulullah SAW walaupun hidup dalam kesederhanaan, tapi beliau orang yang sangat dermawan pada bulan Ramadan (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Diriwayatkan juga, Nabi Yusuf tidak pernah makan hingga kenyang, sekalipun dia dipercayakan memegang kekayaan negeri Mesir. Saat ditanya, beliau menjawab, dikhawatirkan makan hingga kenyang itu akan membuat manusia lupa akan penderitaan fakir miskin (Syaikh Yusuf al-Qaradhawi: Syahr Intishar al-Insan).

Jadi, setelah Ramadan berlalu, akan terjadi peningkatan dalam kehidupan seorang muslim, dengan peningkatan akal yang dipenuhi ilmu pengetahuan, peningkatan hati dengan iman dan takwa, peningkatan kehidupan masyarakat dengan semakin kuatnya ukhuwah Islamiyah antara sesama mereka, peningkatan tekad dengan berlomba kepada kebaikan.

Dengan begitu, akan nampak puasa Ramadan itu melahirkan seorang muslim yang mendapatkan kemenangan dalam mengen-dalikan hawa nafsu dunia, menjadi seorang muslim yang takwa kepada Allah SWT (QS: Al-Baqarah: 183). Semoga bulan suci Ramadan ini merupakan bulan kemenangan bagi seluruh umat Islam, amin.*** 


Sumber : Riaupos